Mengalami Transenden, Ari Winata Wujudkan Karya Luar Biasa Dalam The Hope

0
755 views
The Hope, Karya Arik dalam bingkai pameran bersama Becoming, Galang Kangin

BALI, PelitaSatu – Drawing adalah pilihan visual perupa I Nyoman Ari Winata dari dulu hingga sekarang. Pengagum
John Slester Dhucon, pelukis dunia merupakan salah satu guru lukisnya di masa kecil, sampai saat ini masih mengidolakan karya-karya John yang banyak menginspirasi gayanya dalam menorehkan pensilnya diatas kertas dan kanfas.

Perupa yang telah banyak menjelajahi pameran dimana-mana yang akrab dipanggil Arik ini, memilih visual lukisannya dengan unsur-unsur seperti sosok sosok, simbul, juga serpihan-serpihan.

Perupa Bali, I Nyoman Ari Winata

Di sampaikan oleh Arik, bahwa Seni adalah realitas diatas kanvas ataupun kertas dilihat dari sudut pandang yang dibangun dari garis-garis, yang berbentuk ruang, bidang dan figur. “Sebagian realita menghadirkan peristiwa. Disinilah keriuhan dapat menghadirkan makna, hikmah, ketakjuban, ketakberdayaan dan sebagiannya lagi yang menjadikan stimulan bagi mereka yang ingin memberi makna baru. disamping bakat dan kepentingan dengan realitas memiliki pertalian yang signifikan,” ungkapnya.

Lanjutnya, kesenian bukanlah mengulang realitas, dan ini disadari. Karena itu drawingnya bukan saja menawarkan narasi-narasi estetika, melainkan juga simbul-simbul sebagai tafsir estetik.

“Saya belum bisa dikatakan painting. Tahapan demi tahapan saya nikmati. Sketsa bentuk, Drawing, dan painting tahapan penting yang mesti saya lalui. Sekarang ini saya masih menikmati tahapan drawing dan masih drawing hingga saatnya nanti saya akan beranjak ke painting,” ujarnya.

Demikian merendah Ari dalam mengantar karyanya menjadi sebuah pelepasan rasa yang selalu mengalir begitu saja, bahkan ia tak segan segan belajar dari seniornya seperti perupa Made Budhiana.

The Hope yang merupakan hasil karyanya yang dibuat sejak 2012, dengan ukuran 100 x 170 cm, adalah mix media yang mengisahkan sebuah perjalanan Raft of the Refugees. Perjalanan yang tiada henti, karya yang tak pernah selesai, jika dilanjutkan akan mengalir terus.

“Namun karya ini sudah cukup untuk mewakili kesempurnaan kisah sang perupa sebagai transformasi bhatin yang pernah mengalami zero spot. Yaitu antara hidup dan mati bak harapan yang telah tiada menemui trancendent dalam perjalanan bhatin. Tiada lagi kenyamanan hidup, membaca kehidupan sosial yang lebih luas merekam ketidaknyamanan membawa karya itu terwujud dengan berangsur sebagai “raft of the refugees” pungkas Arik menterjemahkan karya drawingnya dalam sebuah pameran lukisan bersama dengan komonitasnya Galang Kangin saat di temui pelitasatu.co.id. (Way Eka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here